Melihat Syuting FTV di Tengah Meningkatnya Aktivitas Bromo

December 3rd, 2010

Kru dan Pemain Malah Menikmati Semburan Abu

Meningkatnya aktivitas vulkanis Gunung Bromo ternyata tidak membuat sejumlah masyarakat waswas. Bahkan, DSX Production (Studio X), sebuah rumah produksi dari Jakarta, tetap melanjutkan pengambilan gambar untuk tayangan FTV berjudul Cinta Murni untuk Kamu.

============================
GUNAWAN SUTANTO, Probolinggo
============================

SURYA Saputra terus memandangi kawah Bromo dari atas Bukit Cemara Indah. Kemarin siang (29/11) gunung setinggi 2.393 m itu masih menunjukkan aktivitas membahayakan. Asap tebal terus keluar dari kawah gunung yang menjadi primadona wisata di Jawa Timur tersebut. Jarak tempat Surya berdiri dari kawah Bromo sekitar 3,5 km.

Surya siang itu berada di bukit tersebut untuk syuting beberapa scene film televisi (FTV) berjudul Cinta Murni untuk Kamu. “Lihat tuh, bagus banget,” ujarnya saat break syuting. Ketika itu abu vulkanis menyembur dari dalam kawah Bromo dan terbawa angin ke arah selatan.

Mantan vokalis Cool Colors tersebut menyatakan tidak terlalu risau soal kondisi vulkanis Gunung Bromo yang terus meningkat. Dia mengatakan tidak sekali ini saja berada di Bromo. “Saya sering ke sini, kok. Bukan hanya saat main film, tapi juga pas liburan. Jadi, malah bisa menikmati,” terangnya. Bahkan, Surya menuturkan pernah menjelajahi kawasan Bromo dari arah selatan untuk acara sebuah pabrikan kendaraan.

Siang itu Surya dan bintang film lain melakoni scene 69. Dia dikisahkan memadu kasih dengan Qori Sandioriva (Putri Indonesia 2009) di sebuah bukit berlatar belakang Gunung Bromo. Pengambilan gambar tersebut dilakukan beberapa kali. Penyebabnya bukan hanya kesalahan pemain. Kadang gemuruh dari kawah Bromo pun dirasa mengganggu syuting.

Bukan hanya Surya yang enjoy menjalani syuting tersebut. Qori juga tidak merasa terbebani saat syuting dengan kondisi Bromo yang kini “sakit” itu. Dara cantik dari Aceh tersebut juga tampak menikmati suasana di sana kala jeda syuting. Dia menyatakan menikmati pemandangan Bromo. Apalagi, Qori sudah lebih dari dua minggu berada di sekitar gunung berapi aktif tersebut.

“Bukan hanya pemandangannya, saya juga sudah terbiasa dan akrab dengan masyarakatnya,” papar Qori. Dia berada di Bromo untuk menjalani tiga syuting FTV, yakni Persahabatan yang Indah, Jutawan Versi Baru, dan Cinta Murni untuk Kamu.

Hal sama dirasakan oleh bintang FTV lain, Tengku Faisal. “Sangat menikmati sekali suasananya. Lihat dari bukit seperti ini, suasananya tambah eksotis,” ujarnya saat ditemui setelah syuting. Seperti Surya dan Qori, Tengku selama ini sudah terbiasa dengan suasana dan lingkungan Gunung Bromo. Setidaknya, dia sudah tiga kali berada di Bromo untuk menjalani syuting sinetron dan FTV.

Winaldha E. Melalatoa, sang sutradara, mengatakan, meskipun tidak terlalu mengkhawatirkan bagi krunya, kondisi Bromo yang kini “batuk” itu tetap mengganggu proses syuting. Salah satu gangguan yang dirasa, Winaldha tidak bisa bebas menentukan lokasi-lokasi pengambilan gambar. “Radius yang dinyatakan berbahaya kan 3 kilometer (km) dari kawah. Jadi, kalau harus ambil take di sekitar lautan pasir, ya tidak memungkinkan,” papar dia.

Karena itu, Studio X terpaksa mengubah skenario lantaran pengambilan gambar di beberapa daerah tidak memungkinkan. Winaldha mengatakan, ada beberapa cerita dan adegan yang diubah. Salah satunya adalah adegan sang lakon berada di lautan pasir. Akhirnya, adegan itu diganti dengan pengambilan gambar di sekitar lahan pertanian warga dan peternakan sapi.

“Kami akhirnya bekerja lagi dengan tim penulis untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lokasi saat ini,” ungkap sutradara yang menggarap film Drop Out (DO) tersebut. Dia selama ini memang terbiasa berada di sekitar Gunung Bromo. Dia menyatakan sudah menggarap sekitar 15 judul FTV yang mengambil setting di Bromo. “Saya dan kawan-kawan di sini sejak 2,5 bulan lalu,” lanjut dia.

Selama proses syuting di Bromo, DSX Production membawa lebih dari 40 kru. Mereka tinggal di sebuah wisma di daerah Cemoro Lawang. Bekerja 2,5 bulan di Bromo membawa banyak cerita bagi tiap-tiap kru. Sendy Widodo, misalnya. Asisten sutradara itu mengatakan betah di Bromo meskipun keluarganya yang ditinggal di Jakarta kerap cemas.

“Pemberitaan di televisi dan koran yang begitu gencar tentu membuat keluarga dan kerabat di Jakarta cemas,” papar dia. Tak ayal, ponsel Sendy sering berdering. Panggilan tersebut hanya menanyakan kabar laki-laki berpostur kurus tinggi itu. “Asal saya rutin mengabari, minimal melalui SMS, keluarga sudah tenang,” lanjut dia.

Rentang waktu produksi FTV yang lumayan lama juga membuat Sendy hafal akan daerah-daerah sekitar Bromo. Selain itu, penanggung jawab dari DSX di Bromo terus memberikan kabar ke kantor di Jakarta. Hal tersebut bertujuan memastikan perkembangan erupsi Bromo hari demi hari.

Sendy mengatakan, kru dan pemain FTV selama ini juga bisa tenang berkat warga. Menurut dia, warga Tengger selalu menyemangati para kru dan bintang FTV untuk tetap melanjutkan proses produksi di Bromo. “Masyarakat di sini benar-benar hangat. Mereka meyakinkan kami bahwa Bromo masih aman untuk ditinggali dan digunakan syuting,” papar dia.

Antara Lampard Dan Pil2an

June 29th, 2010

“Jangan lihat piala dunia hanya dari skor, pemain dan hiruk pikuk pertandingannya saja !”  Itulah nasihat Sucecep pada anaknya Chepy.

Menurut Sucecep, Ada banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dalam kehidupan sehari-hari dari perhelatan piala dunia di Afrika 2010.

Dasar Oon, Chepy pun bertanya, “Maksudnya apa sih, Pak ?”

”Sederhana saja, belajarlah dari kekalahan yang didapat tim-tim yang bertanding,” jawab Sucecep.

Tahu anaknya Oonnya berlebihan, Sucecep bergegas menjelaskan nasihatnya,

”Coba lihat bagaimana Frank Lampard menyikapi kekalahan Inggris melawan Jerman kemarin,”

Menurut Sucecep sebenarnya Lampard patut begitu kecewa dalam kekalahan itu. Pasalnya sebuah golnya yang jelas-jelas melewati garis gawang dianulir oleh wasit. Tapi dalam pernyataannya di publik, Lampard tak banyak protes. Dia hanya meminta FIFA segera mengaplikasikan teknologi garis gawang agar kejadian seperti yang dialaminya tidak terjadi lagi.

”Itu sebuah pelajar berharga. Kekalahan bisa diterima dengan bijak plus bisa memberikan masukan yang maju,” tuturnya.

Buru-buru Sucecep memberikan contoh yang berbanding terbalik, ”Jangan mencontoh apa yang terjadi di negara kita,” ujarnya

Dia mencontohkan banyak kasus yang terjadi baik di dunia sepak bola maupun perhelatan pil-pilan (pilwali, pilgub, pilbup, pileg, dll) di Indonesia.

Menurut dia kekalahan seringkali tidak bisa diterima dengan besar hati. Selalu ada upaya untuk  membalik sebuah kekalahan menjadi kemenangan. Padahal untuk membalik hal tersebut selalu banyak yang dirugikan.

Dalam sepak bola Sucecep mencontohkan bagaimana pertandingan persik dan persebaya sampai saat ini belum jelas jeluntrungannya. Padahal jelas-jelas Persik dihukum WO, tapi mereka bisa membalik hukuman melalui komisi banding. Sebelumnya disebutkan hukuman itu tidak bisa dilakukan banding karena sanksinya terlalu ringan.

”Nah terus, kalau contoh dalam pil2an apa, Pak” tanya Chepy yang tambah kelihatan bloonnya.

”Jelas toh Cep, bagaimana di banyak tempat kemenangan salah seorang pasangan tidak bisa diterima pasangan lainnya,” jawabnya.

”Para calon pemimpin daerah itu tidak bisa menerima kekalahannya. Mereka memilih menempuh jalur MK untuk berusaha membalik keadaan. Dengan berbagai dalih, dinakali secara sistematis lah, terstuktur lah, masih lah…” papar Sucecep.

”Eh, sek-sek, awakmu tahu gak apa itu MK, sistematis, terstruktur dan masif ?” tanya Sucecep pada anaknya yang Oon.

”Ya tahu lah, Pak!” ujar Chepy

Dia pun balik bertanya pada Bapaknya,

”Padahal upaya untuk membalik keadaan itu kan merugikan banyak orang dan habis-habisin duit negara ya, Pak ? Kenapa sih mereka itu tidak legowo saja dan memberi masukan seperti Lampard untuk bisa membangun bersama daerahnya ?” tanya Chepy.

”Mbuh lah, Cep…” jawab Sucecep yang tak lama kemudian semilir terdengar lagu Ebiet G. Ade “Tanyalah pada rumput yang bergoyang…”

artikel soal kekalahan yang mungkin bisa untuk jadi renungan :

http://eliemulyadi.blogspot.com/2009/04/indahnya-kekalahan.html

Testing

June 20th, 2010

testing ting ting tes

Afan Yang Lupa Nasehat Mamanya

June 19th, 2010

Siang itu, adik ponakanku pulang ke rumahnya. Mukanya cemberut, ditekuk-tekuk seperti kertas ujian yang dapat nilai jelek.

Budeku pun tanya ke anak lanangnya itu,

”Kenapa kamu dek,” tanya kakak perempuan ibuku itu.

Dia jawab, ”mangkel…”

“Nilaiku tes matematika kalah sama Resta,” ucap ponakanku yang bernama Afan itu.

Budeku pun berusaha membesarkan hati anak kesayangannya itu. Dia meminta Afan legowo, menerima kekalahannya dan belajar dari kegagalannya.

Dasar anak kecil, Afan pun tetap ngotot. Dia membela diri dari kegagalannya itu. ”Tapi ndak gitu, Ma. Aku kalahnya dinakali,” ucap Afan mulai mengurai alasannya.

Afan mengaku dinakali Resta. ”Dia curang secara sistematis, terstruktur dan masif, Ma,” ujarnya. Budeku mendengar bahasa yang terlalu tinggi itu pun kaget. ”Gayamu dek, bahasamu kaya orang di koran itu aja,” timpal Bude.

”Emang kamu dinakali apa sih, dek?” tanya Bude yang coba melegakan anaknya.

Mendengar mamanya bersedia mendengarkan keluhannya, Afan pun “bernyanyi”

“Dia curang Ma, sebelum test dia belikan ibu guru kue. Kuenya loh ada tulisannya Resta. Aku mau protes ke Pak Kepala Sekolah,” ucap Afan yang kabarnya memang disenangi kepala sekolahnya.

“Nah, gitu aja kok curang. Kan adek juga pernah memberi roti pada bu guru, malah guru yang lainnya juga,?” sambung Bude. ”Sudahlah dik, adik harus berbesar hati. Ucapkan selamat pada Resta. Dukung dia agar bisa ikut sukses ujian ditingkat kecamatan. Mama kan juga selalu mengajarkan anaknya untuk selalu legowo dan sportif,” ucap Budeku menasehati anaknya.

Tiba-tiba kakaknya Afan ikut menimpali, “Iyo loh dik, Mama itu GAK CUMAN NGAJARKAN KITA BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN. TAPI MAMA DAN PAPA MENGAJARKAN KITA UNTUK SIAP KALAH, LEGOWO dan IKHLAS,” timpal Afif, kakak laki-laki Afan

Rupanya Afan lupa kearifan mamanya. Yang dia ingat hanya nasehat Bude yang selalu mengajarkan agar anaknya bermanfaat untuk orang lain. Tapi dia lupa jika dalam keluarga besarku selalu ditekankan hidup itu harus bisa menerima kehendak Gusti Allah dengan Legowo dan Ikhlas.

Surabaya Berbunga, eh Berbaliho

April 20th, 2010

Oleh : Gunawan Sutanto, Wartawan Jawa Pos

Akhir tahun lalu, Pemkot Surabaya bersama Ja­wa Pos dan Yayasan Unilever Peduli Indonesia kem­­bali menghelat acara Green and Clean. Sebuah aca­ra yang melombakan kebersihan dan penghijauan antarkampung. Melalui lomba itu, selama ini warga kota bisa di-influence untuk ikut menjaga kebersihan dan keindahan wilayah mereka.

Tahun lalu, konsep menghijaukan Surabaya ter­sebut dikemas dengan tema Surabaya Berbunga. War­ga kota pun berlomba mempercantik kampung me­reka dengan menanam aneka bunga. Karena itu­lah, per­hetalannya diberi nama Surabaya Ber­bu­nga.

Kegiatan tersebut terbilang sukses. Setidaknya se­telah acara itu berakhir, beberapa sudut kampung di kota Surabaya memang lebih indah. Bunga-bu­nga yang sedap dipandang terpajang di bagian de­pan rumah warga. Ada yang merah….dan ada yang putih. Ma­war, melati…semuanya indah. Per­sis lagu Ke­bunku yang kita dengar dari nyanyian anak-anak TK.

***

Kini, menjelang perhelatan pemilihan wali kota Su­rabaya, indahnya bunga-bunga itu seolah tertutup ”in­dahnya” senyum merekah dari pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Surabaya. Bagaimana tidak, hampir setiap sudut kampung di metropolis saat ini ”ditumbuhi” atribut cawali dan cawawali. Mulai spanduk, banner, sampai baliho.

Baliho dan atribut itu bahkan lebih banyak dipasang di tempat yang tidak semestinya, seperti dipaku di po­hon. Padahal, jelas-jelas pohon seharusnya di­rawat, bukan dirusak dengan paku sebagai tempat me­nempel baliho, banner, maupun bentuk media pro­mosi lainnya. Tak hanya itu, ada juga atribut kam­panye yang ditempatkan di rambu lalu lintas dan fa­silitas umum (fasum) lainnya. Atribut pilwali itu me­rusak estetika kota, seperti media promosi lain­nya. Jasa sedot WC misalnya.

Panwas Kota Surabaya memang mulai menertibkan sejumlah atribut cawali-cawawali tersebut. Namun, hal itu kebanyakan masih dilakukan di 17 ruas jalan utama yang memang harus steril dari atribut kampanye. Coba saja kapan-kapan main ke daerah pinggiran kota. Di wilayah seperti Sukomanunggal, Sambikerep, Tandes, Benowo, dan Pakal, atribut pilwali milik calon tertentu masih banyak ditemukan.

Kondisi itu tentu ironis dengan tekad warga kota yang ingin terus mewujudkan Surabaya Green and Clean. Sebab, sebagian calon pemimpin kota ini jus­tru merusak estetika kota melalui pajangan foto dan jargon mereka. Saya katakan merusak estetika lantaran bukan hanya cara penempatan atribut yang tidak sesuai.

Tapi secara desain, atribut para calon wali kota itu juga kurang kreatif. Lihat saja, bentuknya yang mo­noton atau begitu-gitu saja. Ada foto senyum dengan menggunakan warna yang mengidentikan parpol pengusung serta copywriting yang…ya begitulah.

Sebagai warga Kota Surabaya sekaligus alumnus se­kolah desain, rasanya saya malu jika calon pe­mimpin kota saya tercinta ini kurang memiliki krea­tivitas dalam ”menjual diri” mereka. Kalau mem­pro­mosikan dirinya saja tidak bisa kreatif, lantas apakah mereka punya cara kreatif untuk membangun kota ini?

Jujur saja, saya eneg lihat beberapa atribut pilwali yang ada saat ini. Sebab, saat pileg (pemilihan le­gislatif) dan pilpres lalu, kita juga disuguhi desain atribut yang tak jauh berbeda.

Memang tidak semua atribut pilwali yang ada saat ini tidak kreatif. Ada juga yang mencoba tampil beda. Tidak melulu pajang foto diri dan copywriting-nya juga lain dari kebanyakan atribut kampanye. Kata orang marketing, be different itu penting untuk me­narik perhatian calon konsumen (kalau dalam pil­wali, mungkin calon konstituen).

Ya…sebagai warga Surabaya, saya berharap se­luruh pasangan cawali-cawawali yang ada saat ini bi­sa mematuhi aturan. Kalau memang belum waktunya kampanye, ya sudah kerahkan seluruh tim sukses untuk mencopot kembali atribut kampanye panjenengan. Apalagi, sebagian pasangan cawali-cawawali yang ada saat ini kan juga sudah ”mejeng” lama di beberapa papan iklan di Surabaya. Setidaknya, cara seperti itu, selain membantu kinerja panwas, satpol, dan bakesbanglinmas, akan menimbulkan simpati masyarakat.

Kalau memang sudah datang waktu kampanye, ya seyogianya lah beri warna pada pilwali kali ini. Masing-masing tampil kreatif pada atribut kampanye sampeyan. Tampilah yang berbeda…

Selain itu, serukan kepada tim sukses sampeyan agar tidak memasang atribut sembarang, di tempat yang tak semestinya. Sebab, itu juga akan merusak image Anda. Kalau perlu, buat atribut kampanye yang bisa menjadi ambient media yang bisa meng­hibur masyarakat. Dengan demikian, kota ini pun bisa tetap indah sebagai Surabaya Berbaliho, eh Su­ra­baya Berbunga. (saya@gunawansutanto.net)

http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=129332

Setahun tidak update blog

February 9th, 2010

Tidak terasa, setahun sudah pindah di tempat kerja baru.
Setahun pula tidak update blog…

Bonek; Gak Duwe Emak, Diumbar Karo Bapake

January 28th, 2010
Oleh : Gunawan Sutanto

SEBAGAI warga Surabaya sekaligus pendukung setia Persebaya, saya miris melihat dan membaca berita media massa seputar tragedi Bonekmania yang road to Bandung. Lagi-lagi, militansi warga Surabaya yang berlabel Bondo Nekat (Bonek) itu harus dibayar mahal. Untuk bisa mendukung Green Force bertanding, nyawa mereka jadi taruhan.

Lepas dari kejadian itu apakah Bonek bersalah atau tidak, saya melihat kini fenomena militansi suporter Surabaya memang mulai kebablasan. Namun, hal tersebut tidak hadir tanpa sebab. Layaknya kehidupan keluarga, Bonek kini bagaikan anak salah asuhan. Gak duwe emak, diumbar karo bapake.

Saya bilang begitu karena saya pernah melihat masa di mana suporter Surabaya setidaknya bisa lebih baik dari sekarang. Saat-saat ketika suporter terkoordinasi dan mendapat pendampingan dengan baik.

Catatan ini saya buat berdasar pengalaman pribadi. Plus, sebelum menulis, saya sempat berdiskusi dengan mantan wartawan Jawa Pos. Dia dulu sempat beberapa kali kebagian tugas menjadi koordinator suporter saat Persebaya masih dikomandani Dahlan Iskan. Dari situ, saya bisa membandingkannya.

Peristiwa yang masih lekat di ingatan wartawan itu adalah ketika Persebaya tret tet tet (sebutan untuk berangkat mendampingi Persebaya tandang) ke Senayan, 1989. Kala itu, Persebaya berhasil ke final dan bertanding di Jakarta menghadapi Persija.

Dia bercerita, pada zaman itu, militansi arek Suroboyo tak berbeda dari sekarang. Tawuran tetap iya, ambil makan tanpa bayar ada, termasuk olok-olokan antarsuporter juga sama. Hanya, militansi tersebut tak berbuah petaka seperti sekarang. Sebab, kala itu para suporter terkoordinasi dengan baik.

Menurut dia, dulu untuk memberangkatkan suporter ke Jakarta, Dahlan Iskan memanfaatkan jaringan agen dan penyalur Jawa Pos. Di tempat-tempat tersebut, para suporter yang ingin ke Jakarta bisa membeli tiket. Tiket yang dimaksud bukan sekadar tiket menonton ke stadion, tapi paket tiket perjalanan ke Jakarta. Mereka yang mendaftar, selain mendapatkan tiket masuk stadion, memperoleh jatah kaus, syal, serta akomodasi perjalanan (bus pulang pergi dan makan dua kali).

Kala itu ada 36 bus yang diberangkatkan. Dari Surabaya berangkat malam, dapat makan di perjalanan, dan paginya sampai Jakarta. Di setiap bus, terdapat seorang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab yang dipercaya memegang uang dan tiket. Sesampai di ibu kota, para suporter sudah memegang tiket masuk ke stadion. Tidak hanya keberangkatan yang dikoordinasi, tapi juga kepulangan suporter. Balik dengan bus dan dapat jatah makan di perjalanan.

Antusiasme suporter yang ikut dalam rombongan tersebut jauh lebih banyak daripada mereka yang berangkat sendiri-sendiri. Itu zaman dulu. Coba bedakan dengan sekarang, kondisinya begitu timpang. Bonek-Bonek seperti gak kopenan.

Jangankan mendapat fasilitas dan pendampingan saat tandang, menonton pertandingan di kandang pun tak ada bedanya. Saya merasakan ketimpangan itu ketika harus menonton pertandingan big match antara Persebaya melawan Arema Indonesia di Gelora 10 Nopember, Sabtu lalu.

Waktu itu, jelas-jelas Saleh Ismail Mukadar, ketua umum Persebaya sekaligus calon wali kota, menulis pesan di Facebook-nya bahwa penjualan tiket dibuka pukul 11.00. Tapi, apa yang terjadi di lapangan? Panpel mengumumkan melalui pengeras suara bahwa tiket habis sejak pagi. Semua ludes, baik kelas ekonomi, utama, maupun VIP.

Ironisnya, tiket habis di loket, tapi bertebaran di calo-calo yang bergentayangan di sekitar stadion. Tiket tersebut dijual di luar batas kemampuan kebanyakan Bonekmania. Tiket ekonomi yang semula berlabel Rp 20 ribu, di tangan calo menjadi paling murah Rp 50 ribu.

Karcis utama yang aslinya Rp 50 ribu dijual terendah Rp 75 ribu. Yang lebih gila, tiket VIP dijual Rp 150 ribu, harga normalnya Rp 100 ribu. Itulah yang menurut penilaian saya sumber militansi Bonek yang kebablasan tersebut muncul.

Mungkin bagi Bonek yang berduit, harga tiket berapa pun tak masalah, asal bisa mendukung langsung Green Force di lapangan. Tapi, bagi mereka yang harus nyelengi, ngutang, atau ngamen, berbeda rasanya. Mereka pasti melongo dan emosional. Sebab, uang yang didapat dengan susah itu tak berarti gara-gara harga tiket di tangan calo berlipat.

Jadi, jangan salahkan kalau para Bonekmania di sana kehilangan kesabaran. Anarkisme mereka timbul karena pengorbanan tak sesuai harapan. Di sinilah pengurus Persebaya tidak berhasil atau mungkin sengaja membiarkan kondisi semacam itu terjadi. Sebab, apakah kira-kira petugas loket tidak mengenali wajah calo tiket yang ”koen maneh koen maneh”?

Bagaimanapun, mayoritas Bonekmania merupakan warga Surabaya. Militansi mereka tidak perlu dikebiri, tapi dikoordinasi supaya bisa membanggakan. Itu yang penting.

Salah satu upaya mendesak yang harus dilakukan mungkin soal pengorganisasian tiket. Kalau dulu tiket disebar di agen dan penyalur Jawa Pos, apakah tidak mungkin sekarang dikoordinasi per kecamatan atau kelurahan di Surabaya?

Sebab, jika tidak dicarikan solusi, dikhawatirkan militansi yang kebablasan itu akan terbawa sampai Persebaya memanfaatkan Gelora Bung Tomo, Surabaya Sport Center, sebagai tempat bertanding. Bisa dibayangkan betapa ruginya kalau infrastruktur di kompleks olahraga tersebut ikut jadi sasaran emosi suporter hanya gara-gara hal sepele.

Gunawan Sutanto, Wartawan Jawa Pos

Andai Ada Tarzan Kota di KBS

December 15th, 2009

Oleh : Gunawan Sutanto
MASIH ingat film Tarzan Kota yang diperankan almarhum Benyamin Sueb? Kisahnya tentang anak rimba yang bermigrasi ke kota. Kalau saja tokoh itu nyata, mestinya dia pantas didapuk sebagai pengurus Kebun Binatang Surabaya (KBS). Atau, paling tidak si Benyamin, eh, si Tarzan itu layak menjadi ketua tim pencari fakta untuk mengakhiri konflik di KBS.

Kenapa Tarzan? Ya iya lah. Di dalam cerita, Tarzan bisa berkomunikasi dengan hewan. Dia dekat dengan satwa apa pun. Sampai-sampai makan telur pun tak mau karena dianggap makan kawan.

Dengan kemampuan dan naluri tersebut, saya berpendapat, Tarzan pasti bisa merampungkan problem KBS. Tinggal tanya ke 4.399 satwa koleksi KBS, pasti ketahuan siapa yang bikin benang ruwet masalah KBS tambah mbulet. Satwa-satwa itu kan yang selama ini merasakan dampak konflik ”abadi” KBS. Satwa tersebut bisa curhat, apakah mereka selama ini diperlakukan sesuai kaidah konservasi atau tidak. Satwa-satwa itu pun bisa cerita soal kematian Melly, harimau betina yang tewas pada Agustus. Atau kematian 364 satwa tahun lalu. Bayangkan, rata-rata hampir tiap hari ada satwa yang mati.

Kalau curhat, satwa itu pasti akan blak-blakan. Mereka kan steril pada tekanan atau bisa melunak karena bargaining dengan kubu tertentu. Hewan-hewan tersebut pasti akan he-eh saja pada kelompok yang punya jiwa konservasi tinggi, setinggi H.F.K. Kommer, jurnalis Belanda yang merintis KBS pada dekade awal abad ke-20. Satwa itu tak bakal memusingkan badan hukum yang menaungi mereka. Yang penting, hidupnya bisa enak, nyaman, lestari, seperti hidup mereka di habitat asli.

***

Bicara badan hukum KBS memang memusingkan. Kubu Stany Soebakir berhasrat menjadikan KBS sebagai yayasan. Itu ditentang kubu Basuki Rekso Wibowo yang menganggap bentuk tersebut kurang mengakomodasi kepentingan anggota. Dalam bentuk perkumpulan seperti sekarang, kewenangan anggota memang cukup tinggi. Anggota bisa melengserkan kepengurusan lewat rapat umum anggota (RUA). Kubu Basuki sendiri lebih condong pada bentuk koperasi.

Dua badan hukum itu sebenarnya sah karena termasuk bentuk yang sesuai Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) No 53/2006. Bentuk lainnya bisa perseroan terbatas (PT), BUMN, dan BUMD.

Beberapa pemerhati menyarankan agar KBS ”diikhlaskan” saja untuk dikelola pemkot. Sebab, lahan KBS milik pemkot dan satwanya milik negara. Kalau diserahkan pemkot, mungkin bentuk badan hukumnya adalah BUMD. Bisa jadi seperti PDAM atau PD Pasar Surya.

Meski begitu, belum ada jaminan bahwa pengelolaan KBS oleh pemkot akan membuat kebun binatang lebih baik. Lebih-lebih jika warna politik begitu dominan memasuki sangkar-sangkar satwa. Bisa-bisa banteng di KBS kulitnya berganti merah, unta diberi baju kuning, atau jalak bali berparuh biru.

Atau ada juga ketakutan KBS hanya jadi sapi perahan. Kekhawatiran itu bisa dimaklumi. KBS termasuk ladang duit. Setiap sudut bisa dikaryakan untuk meraup pundi-pundi rupiah, termasuk dari duit (maaf) pup dan pipis. Bayangkan saat-saat insidental (seperti libur Lebaran dan tahun baru), jumlah toilet di KBS bisa mencapai 21 titik. Padahal, saya hitung kasar, di luar peak season, toilet di KBS dalam sehari bisa menghasilkan sekitar Rp 500 ribu.

Kekhawatiran itu tidak hanya terjadi dalam bayangan saya. Seorang anggota Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) pun berpikir demikian. Melalui pesan singkat, dia mengatakan, tidak ada satu pun kebun binatang di Indonesia yang dikelola pelat merah masuk kategori bagus. Kalau yang ditakutkan seperti alasan di atas, apa tidak satwa lagi yang jadi korban? Lagi-lagi, yang tahu jawabnya mungkin si Tarzan Kota.

By the way, kenapa Tarzan-nya harus kota? Lha iya, kalau Tarzan-nya masih ndeso dari gunung, bisa-bisa dia malah hanya bergelantungan dari satu billboard ke billboard yang lain. Pasti, Tarzan ndeso itu malah bikin problem baru. Kalau ada yang tanya, KBS lebih tepat dikelola siapa, jawabannya barangkali hanya, ”Tanyalah pada Tarzan yang bergelantungan!” (*)

* Wartawan Jawa Pos, emailnya_gunawan@yahoo.com

Perda Larangan Rokok dan Manfaatnya Bagi Institusi Pendidikan

February 8th, 2009

Disahkannya Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Peraturan daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM) akhir Februari ini jelas merupakan dukungan terhadap beberapa institusi pendidikan yang telah lama memang “mengharamkan” asap rokok menyelimuti lingkungannya.

Salah satunya Stikomp Surabaya. Sekolah Komputer yang terletak di kawasan timur Surabaya ini sejak awal berdiri, sang founding fathernya (pemilik yayasan) telah “memfatwakan” bahwa seluruh aktifitas di gedung kampusnya harus steril dari rokok. Kalaupun disediakan smooking area wilayahnya benar-benar jauh dari aktifitas banyak orang (terlebih sejak ada Perda bulan Oktober tahun lalu). Tidak hanya larangan merokok, namun dengan konsekuen Stikomp Surabaya juga menolak sponsorship dari produsen rokok. Bahkan kantin di dalam kampus pun tidak diperbolehkan menjual rokok. Dan aturan ini dengan tegas berlaku pada siapapun, dari dosen, karyawan, mahasiswa hingga petugas umum.

Berlakunya Perda ini jelas akan mematik reaksi beragam, yang pasti merasa dirugikan ialah perokok aktif. Para perokok jelas tidak bisa lagi seenaknya mengepulkan asap rokok disembarang tempat. Namun bagi institusi pendidikan peraturan ini harusnya malah menguntungkan. Disatu sisi akan membisakan dan tidak mengajarkan mahasiswa ataupun siswa untuk merokok, apalagi merokok sembarangan. Karena bagaimana pun semua pasti setuju, merokok lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya kan ?

Coba banyangkan bila tidak ada Perda semacam ini. Bagaimana seorang siswa (yang belum berusia 17 tahun) akan menjauhi rokok, bila tiap kali ia melihat Gurunya merokok dilingkungan sekolah. Pun demikian di lingkungan kampus. Kebanyakan remaja mulai merokok ketika menginjak usia pendidikan perguruan tinggi (menjadi mahasiswa). Kenapa ? ya karena sewaktu di SMA pasti tidak diperbolehkan merokok, dan larangan itu yang kebanyakan tidak terjadi lagi ketika di perguruan tinggi. Sebab sebelum ramainya Perda KTR dan KTM, kan tidak semua perguruan tinggi di Indonesia menerapkan aturan tersebut. Nah, adanya perda KTM dan KTR inilah yang kemungkinan akan membuat malas mahasiswa atau siswa yang akan mulai mencoba rokok. Sebab mereka harus mencari-cari dulu tempat yang diperbolehkan merokok.

Seharusnya selain menerapkan peraturan KTR dan KTM, institusi pendidikan juga seyogjanya meniru apa yang telah dilakukan Stikomp Surabaya, dengan tidak memperbolehkan aktifitas branding dan promosi produsen rokok masuk kampus. Karena bagaimana pun juga adanya sponsorship dari produsen rokok sedikit banyak akan mendorong seseorang untuk merokok, atau setidaknya mengenal rokok.

Memang tidak dapat dipungkiri, mencari sponsorship dari produsen rokok lebih mudah dari pada ke perusahaan lain. Dan kabarnya nilai yang dikucurkan pun senantiasa lebih besar (Seperti yang diketahui bersama, kebanyakan anggaran produsen rokok untuk promosi memang luar biasa). Mudahnya mendapat sponsorship rokok itulah yang kadang membuat mahasiswa dapat berkreatifitas menyelenggarakan sebuah acara untuk kampusnya.

Tidak adanya sponsorship rokok bukan berarti akan memangkas kreatifitas mahasiswa dalam menyelenggarakan acara atau even. Justru dengan adanya hal tersebut seharusnya akan memacu mahasiswa untuk bagaimana merancang sebuah konsep acara yang lebih menarik, yang akhirnya dapat diminati oleh sponsorship dari produsen non-rokok.

Dan yang terakhir serta terpenting dari pembahasan perda KTR dan KTM ini ialah bagaimana upaya penegakan perda itu sendiri, melalui sanksi yang berlaku. Memang akan lebih efektif jika ada internalisasi dari berbagai instansi (lingkungan terkecil), seperti contoh yang berlaku di Stikomp Surabaya tadi. Saya yakin ketika penegakan disiplin larangan merokok itu terbiasa dilakukan di lingkungan terkecil (kantor, kampus, dan lainnya), maka habits itu akan terbawa dengan sendirinya ketika seseorang itu ada di public area. Sehingga kebiasaan merokok disembarang tempat dengan sendirinya akan disadari oleh para perokok, tanpa diawasi Perda, Satpol PP, atau pun John Pantau…

IMLEK dan Keanekaragaman Khasanah Budaya Bangsa

January 25th, 2009

Besok, Senin (26/1) masyarakat keturunan Tionghoa diseluruh penjuru dunia mengawali awal tahun baru Imlek. Tahun baru yang lazim dirayakan sebagai bentuk rasa syukur seperti tahun-tahun baru lainnya, misalnya tahun baru Masehi, tahun baru Hijriyah, ataupun tahun baru Jawa (Satu Suro).

Berbagai perayaan menyambut tahun baru Imlek kini bebas dilakukan saudara-saudara kita keturunan Tionghoa yang ada di Indonesia. Hal tersebut tentu sebuah berkah tersendiri bagi mereka usai Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut lnpres No. 14/1967, sembilan tahun silam. Seperti diketahui bersiama, Gus Dur telah membuka ruang kebebasan bagi saudara-saudara kita keturunan Tionghoa, setelah sebelumnya belasan tahun Orde Baru (dengan berbagai dalil) melarang segala bentuk aktivitas keagamaan, kebudayaan, dan tradisi Tionghoa di Indonesia.

Ditengah semangat Bhineka Tunggal Ika, sungguh ironis memang bila larangan itu tidak dicabut. Sejarah juga membuktikan, masyarakat Tionghoa banyak yang terlibat dalam pergerakan kemerdekaan. Belum lagi Kelenteng-kelenteng ditanah air juga membuktikan bahwa masyarakat Tionghoa sudah ada di bumi pertiwi sejak ratusan tahun silam.

Diluar dari pada itu, sejatinya perayaan-perayaan yang dilakukan masyarakat Tionghoa di Indonesia juga memperkaya khasanah budaya Bangsa, termasuk perayaan tahun baru Imlek. Tahun baru yang berasal dari tradisi petani ini ternyata di Indonesia dirayakan dengan budaya yang agak berbeda dan lebih variatif. Salah satunya pada acara Cap Go Meh yang ada dalam rangkaian perayaan Imlek atau Sin Tjia. Di Indonesia, perayaan tersebut menghadirkan sebuah tradisi yang mewarnai keunikan kuliner, yaitu adanya tradisi makan lontong Cap Go Meh. Padahal seperti informasi yang saya dapatkan dari Kwang Ta (salah satu tokoh masyarakat Tionghoa Surabaya) bahwa tradisi makan lontong Cap Go Meh tidak ada di Tiongkok.

Selain itu larangan segala bentuk kegiatan dan kebudayaan masyarakat Tionghoa beberapa tahun silam, sebenarnya juga membawa dampak buruk bagi masyarakat Indonesia. Setuju atau tidak, Tiongkok adalah salah satu negara yang sekarang banyak diperhitungkan dalam percaturan bisnis dunia. Dari situ membuat bahasa mandarin banyak digunakan dalam aktivitas bisnis dan perdagangan. Dan diakui atau tidak, negara kita sudah tertinggal dalam penguasaan bahasa tersebut.

Andai kebudayaan Tionghoa tidak dibelenggu belasan tahun, mungkin bahasa Mandarin sudah memasyarakat di negara kita, seperti biasanya orang berbahasa Inggris. Bagaimana bisa berbahasa Mandarin, wong tempat kursusan bahasanya saja baru menjamur sejak pintu kebebasan dibuka Gus Dur. Oleh sebab itu, saya sangat apresiatif dengan terobosan Bupati Lamongan, Masfuk dengan mewajibkan ekstrakurikuler Bahasa Mandarin di setiap kecamatan.

Upaya tersebut pastinya dapat memberikan nilai tambah dan mengejar ketertinggalan, agar Lamongan lebih punya keunggulan kompetitif khususnya di bidang sumber daya manusia. Selain itu, terbosan Masfuk juga bermanfaat untuk menangkap peluang bisnis dan investasi ke depan, terlebih yang berkaitan dengan negara Republik Rakyat Cina (RRC).

Kendala bahasa tersebut sebenarnya bukan hanya masalah bagi masyarakat non keturuan Tionghoa saja. Seperti informasi yang saya dapat dari General Manager (GM) salah satu koran mandarin di Surabaya, bahwa data pemasaran yang mereka punya menyebutkan rata-rata pembaca koran mereka adalah orang-orang keturunan Tionghoa yang berusia lanjut. Sebab data kualitatif yang mereka dapat, masyarakat keturunan Tionghoa yang muda-muda banyak yang kurang bisa membaca tulisan Mandarin. Kalau memang data tersebut benar, maka menjadi tanda tanya besar, apakah fenomena tersebut timbul akibat kebebasan budaya, informasi dan tradisi Tionghoa yang selama ini terpasung ?

Ya…semoga dibukanya kran kebebasan bagi masyarakat Tionghoa, membawa perubahan yang lebih baik untuk Indonesia. Sebab saat ini hak-hak untuk beragama, hak sipil, hak berpolitik dan mendapatkan perlakuan yang sama telah didapatkan oleh semua golongan. Juga, semoga saja calon-calon anggota legislatif kita yang berasal dari keturunan Tionghoa bisa memberikan warna tersendiri bagi jalannya pemerintahan dan demokrasi, menuju Indonesia Bersatu yang lebih baik.

Go Xi Fa Cai…Selamat Merayakan Tahun Baru Imlek…Mari bersama wujudkan Masyarakat Pluralisme dan Multikulturalisme.