Kru dan Pemain Malah Menikmati Semburan Abu
Meningkatnya aktivitas vulkanis Gunung Bromo ternyata tidak membuat sejumlah masyarakat waswas. Bahkan, DSX Production (Studio X), sebuah rumah produksi dari Jakarta, tetap melanjutkan pengambilan gambar untuk tayangan FTV berjudul Cinta Murni untuk Kamu.
============================
GUNAWAN SUTANTO, Probolinggo
============================
SURYA Saputra terus memandangi kawah Bromo dari atas Bukit Cemara Indah. Kemarin siang (29/11) gunung setinggi 2.393 m itu masih menunjukkan aktivitas membahayakan. Asap tebal terus keluar dari kawah gunung yang menjadi primadona wisata di Jawa Timur tersebut. Jarak tempat Surya berdiri dari kawah Bromo sekitar 3,5 km.
Surya siang itu berada di bukit tersebut untuk syuting beberapa scene film televisi (FTV) berjudul Cinta Murni untuk Kamu. “Lihat tuh, bagus banget,” ujarnya saat break syuting. Ketika itu abu vulkanis menyembur dari dalam kawah Bromo dan terbawa angin ke arah selatan.
Mantan vokalis Cool Colors tersebut menyatakan tidak terlalu risau soal kondisi vulkanis Gunung Bromo yang terus meningkat. Dia mengatakan tidak sekali ini saja berada di Bromo. “Saya sering ke sini, kok. Bukan hanya saat main film, tapi juga pas liburan. Jadi, malah bisa menikmati,” terangnya. Bahkan, Surya menuturkan pernah menjelajahi kawasan Bromo dari arah selatan untuk acara sebuah pabrikan kendaraan.
Siang itu Surya dan bintang film lain melakoni scene 69. Dia dikisahkan memadu kasih dengan Qori Sandioriva (Putri Indonesia 2009) di sebuah bukit berlatar belakang Gunung Bromo. Pengambilan gambar tersebut dilakukan beberapa kali. Penyebabnya bukan hanya kesalahan pemain. Kadang gemuruh dari kawah Bromo pun dirasa mengganggu syuting.
Bukan hanya Surya yang enjoy menjalani syuting tersebut. Qori juga tidak merasa terbebani saat syuting dengan kondisi Bromo yang kini “sakit” itu. Dara cantik dari Aceh tersebut juga tampak menikmati suasana di sana kala jeda syuting. Dia menyatakan menikmati pemandangan Bromo. Apalagi, Qori sudah lebih dari dua minggu berada di sekitar gunung berapi aktif tersebut.
“Bukan hanya pemandangannya, saya juga sudah terbiasa dan akrab dengan masyarakatnya,” papar Qori. Dia berada di Bromo untuk menjalani tiga syuting FTV, yakni Persahabatan yang Indah, Jutawan Versi Baru, dan Cinta Murni untuk Kamu.
Hal sama dirasakan oleh bintang FTV lain, Tengku Faisal. “Sangat menikmati sekali suasananya. Lihat dari bukit seperti ini, suasananya tambah eksotis,” ujarnya saat ditemui setelah syuting. Seperti Surya dan Qori, Tengku selama ini sudah terbiasa dengan suasana dan lingkungan Gunung Bromo. Setidaknya, dia sudah tiga kali berada di Bromo untuk menjalani syuting sinetron dan FTV.
Winaldha E. Melalatoa, sang sutradara, mengatakan, meskipun tidak terlalu mengkhawatirkan bagi krunya, kondisi Bromo yang kini “batuk” itu tetap mengganggu proses syuting. Salah satu gangguan yang dirasa, Winaldha tidak bisa bebas menentukan lokasi-lokasi pengambilan gambar. “Radius yang dinyatakan berbahaya kan 3 kilometer (km) dari kawah. Jadi, kalau harus ambil take di sekitar lautan pasir, ya tidak memungkinkan,” papar dia.
Karena itu, Studio X terpaksa mengubah skenario lantaran pengambilan gambar di beberapa daerah tidak memungkinkan. Winaldha mengatakan, ada beberapa cerita dan adegan yang diubah. Salah satunya adalah adegan sang lakon berada di lautan pasir. Akhirnya, adegan itu diganti dengan pengambilan gambar di sekitar lahan pertanian warga dan peternakan sapi.
“Kami akhirnya bekerja lagi dengan tim penulis untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lokasi saat ini,” ungkap sutradara yang menggarap film Drop Out (DO) tersebut. Dia selama ini memang terbiasa berada di sekitar Gunung Bromo. Dia menyatakan sudah menggarap sekitar 15 judul FTV yang mengambil setting di Bromo. “Saya dan kawan-kawan di sini sejak 2,5 bulan lalu,” lanjut dia.
Selama proses syuting di Bromo, DSX Production membawa lebih dari 40 kru. Mereka tinggal di sebuah wisma di daerah Cemoro Lawang. Bekerja 2,5 bulan di Bromo membawa banyak cerita bagi tiap-tiap kru. Sendy Widodo, misalnya. Asisten sutradara itu mengatakan betah di Bromo meskipun keluarganya yang ditinggal di Jakarta kerap cemas.
“Pemberitaan di televisi dan koran yang begitu gencar tentu membuat keluarga dan kerabat di Jakarta cemas,” papar dia. Tak ayal, ponsel Sendy sering berdering. Panggilan tersebut hanya menanyakan kabar laki-laki berpostur kurus tinggi itu. “Asal saya rutin mengabari, minimal melalui SMS, keluarga sudah tenang,” lanjut dia.
Rentang waktu produksi FTV yang lumayan lama juga membuat Sendy hafal akan daerah-daerah sekitar Bromo. Selain itu, penanggung jawab dari DSX di Bromo terus memberikan kabar ke kantor di Jakarta. Hal tersebut bertujuan memastikan perkembangan erupsi Bromo hari demi hari.
Sendy mengatakan, kru dan pemain FTV selama ini juga bisa tenang berkat warga. Menurut dia, warga Tengger selalu menyemangati para kru dan bintang FTV untuk tetap melanjutkan proses produksi di Bromo. “Masyarakat di sini benar-benar hangat. Mereka meyakinkan kami bahwa Bromo masih aman untuk ditinggali dan digunakan syuting,” papar dia.
