IMLEK dan Keanekaragaman Khasanah Budaya Bangsa

Besok, Senin (26/1) masyarakat keturunan Tionghoa diseluruh penjuru dunia mengawali awal tahun baru Imlek. Tahun baru yang lazim dirayakan sebagai bentuk rasa syukur seperti tahun-tahun baru lainnya, misalnya tahun baru Masehi, tahun baru Hijriyah, ataupun tahun baru Jawa (Satu Suro).

Berbagai perayaan menyambut tahun baru Imlek kini bebas dilakukan saudara-saudara kita keturunan Tionghoa yang ada di Indonesia. Hal tersebut tentu sebuah berkah tersendiri bagi mereka usai Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut lnpres No. 14/1967, sembilan tahun silam. Seperti diketahui bersiama, Gus Dur telah membuka ruang kebebasan bagi saudara-saudara kita keturunan Tionghoa, setelah sebelumnya belasan tahun Orde Baru (dengan berbagai dalil) melarang segala bentuk aktivitas keagamaan, kebudayaan, dan tradisi Tionghoa di Indonesia.

Ditengah semangat Bhineka Tunggal Ika, sungguh ironis memang bila larangan itu tidak dicabut. Sejarah juga membuktikan, masyarakat Tionghoa banyak yang terlibat dalam pergerakan kemerdekaan. Belum lagi Kelenteng-kelenteng ditanah air juga membuktikan bahwa masyarakat Tionghoa sudah ada di bumi pertiwi sejak ratusan tahun silam.

Diluar dari pada itu, sejatinya perayaan-perayaan yang dilakukan masyarakat Tionghoa di Indonesia juga memperkaya khasanah budaya Bangsa, termasuk perayaan tahun baru Imlek. Tahun baru yang berasal dari tradisi petani ini ternyata di Indonesia dirayakan dengan budaya yang agak berbeda dan lebih variatif. Salah satunya pada acara Cap Go Meh yang ada dalam rangkaian perayaan Imlek atau Sin Tjia. Di Indonesia, perayaan tersebut menghadirkan sebuah tradisi yang mewarnai keunikan kuliner, yaitu adanya tradisi makan lontong Cap Go Meh. Padahal seperti informasi yang saya dapatkan dari Kwang Ta (salah satu tokoh masyarakat Tionghoa Surabaya) bahwa tradisi makan lontong Cap Go Meh tidak ada di Tiongkok.

Selain itu larangan segala bentuk kegiatan dan kebudayaan masyarakat Tionghoa beberapa tahun silam, sebenarnya juga membawa dampak buruk bagi masyarakat Indonesia. Setuju atau tidak, Tiongkok adalah salah satu negara yang sekarang banyak diperhitungkan dalam percaturan bisnis dunia. Dari situ membuat bahasa mandarin banyak digunakan dalam aktivitas bisnis dan perdagangan. Dan diakui atau tidak, negara kita sudah tertinggal dalam penguasaan bahasa tersebut.

Andai kebudayaan Tionghoa tidak dibelenggu belasan tahun, mungkin bahasa Mandarin sudah memasyarakat di negara kita, seperti biasanya orang berbahasa Inggris. Bagaimana bisa berbahasa Mandarin, wong tempat kursusan bahasanya saja baru menjamur sejak pintu kebebasan dibuka Gus Dur. Oleh sebab itu, saya sangat apresiatif dengan terobosan Bupati Lamongan, Masfuk dengan mewajibkan ekstrakurikuler Bahasa Mandarin di setiap kecamatan.

Upaya tersebut pastinya dapat memberikan nilai tambah dan mengejar ketertinggalan, agar Lamongan lebih punya keunggulan kompetitif khususnya di bidang sumber daya manusia. Selain itu, terbosan Masfuk juga bermanfaat untuk menangkap peluang bisnis dan investasi ke depan, terlebih yang berkaitan dengan negara Republik Rakyat Cina (RRC).

Kendala bahasa tersebut sebenarnya bukan hanya masalah bagi masyarakat non keturuan Tionghoa saja. Seperti informasi yang saya dapat dari General Manager (GM) salah satu koran mandarin di Surabaya, bahwa data pemasaran yang mereka punya menyebutkan rata-rata pembaca koran mereka adalah orang-orang keturunan Tionghoa yang berusia lanjut. Sebab data kualitatif yang mereka dapat, masyarakat keturunan Tionghoa yang muda-muda banyak yang kurang bisa membaca tulisan Mandarin. Kalau memang data tersebut benar, maka menjadi tanda tanya besar, apakah fenomena tersebut timbul akibat kebebasan budaya, informasi dan tradisi Tionghoa yang selama ini terpasung ?

Ya…semoga dibukanya kran kebebasan bagi masyarakat Tionghoa, membawa perubahan yang lebih baik untuk Indonesia. Sebab saat ini hak-hak untuk beragama, hak sipil, hak berpolitik dan mendapatkan perlakuan yang sama telah didapatkan oleh semua golongan. Juga, semoga saja calon-calon anggota legislatif kita yang berasal dari keturunan Tionghoa bisa memberikan warna tersendiri bagi jalannya pemerintahan dan demokrasi, menuju Indonesia Bersatu yang lebih baik.

Go Xi Fa Cai…Selamat Merayakan Tahun Baru Imlek…Mari bersama wujudkan Masyarakat Pluralisme dan Multikulturalisme.

  • Facebook
  • Yahoo Messenger
  • Yahoo Mail
  • Multiply
  • Google Gmail
  • Share/Bookmark

One Response to “IMLEK dan Keanekaragaman Khasanah Budaya Bangsa”

  1. tes

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>

  • Facebook