Antara Lampard Dan Pil2an

“Jangan lihat piala dunia hanya dari skor, pemain dan hiruk pikuk pertandingannya saja !”  Itulah nasihat Sucecep pada anaknya Chepy.

Menurut Sucecep, Ada banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dalam kehidupan sehari-hari dari perhelatan piala dunia di Afrika 2010.

Dasar Oon, Chepy pun bertanya, “Maksudnya apa sih, Pak ?”

”Sederhana saja, belajarlah dari kekalahan yang didapat tim-tim yang bertanding,” jawab Sucecep.

Tahu anaknya Oonnya berlebihan, Sucecep bergegas menjelaskan nasihatnya,

”Coba lihat bagaimana Frank Lampard menyikapi kekalahan Inggris melawan Jerman kemarin,”

Menurut Sucecep sebenarnya Lampard patut begitu kecewa dalam kekalahan itu. Pasalnya sebuah golnya yang jelas-jelas melewati garis gawang dianulir oleh wasit. Tapi dalam pernyataannya di publik, Lampard tak banyak protes. Dia hanya meminta FIFA segera mengaplikasikan teknologi garis gawang agar kejadian seperti yang dialaminya tidak terjadi lagi.

”Itu sebuah pelajar berharga. Kekalahan bisa diterima dengan bijak plus bisa memberikan masukan yang maju,” tuturnya.

Buru-buru Sucecep memberikan contoh yang berbanding terbalik, ”Jangan mencontoh apa yang terjadi di negara kita,” ujarnya

Dia mencontohkan banyak kasus yang terjadi baik di dunia sepak bola maupun perhelatan pil-pilan (pilwali, pilgub, pilbup, pileg, dll) di Indonesia.

Menurut dia kekalahan seringkali tidak bisa diterima dengan besar hati. Selalu ada upaya untuk  membalik sebuah kekalahan menjadi kemenangan. Padahal untuk membalik hal tersebut selalu banyak yang dirugikan.

Dalam sepak bola Sucecep mencontohkan bagaimana pertandingan persik dan persebaya sampai saat ini belum jelas jeluntrungannya. Padahal jelas-jelas Persik dihukum WO, tapi mereka bisa membalik hukuman melalui komisi banding. Sebelumnya disebutkan hukuman itu tidak bisa dilakukan banding karena sanksinya terlalu ringan.

”Nah terus, kalau contoh dalam pil2an apa, Pak” tanya Chepy yang tambah kelihatan bloonnya.

”Jelas toh Cep, bagaimana di banyak tempat kemenangan salah seorang pasangan tidak bisa diterima pasangan lainnya,” jawabnya.

”Para calon pemimpin daerah itu tidak bisa menerima kekalahannya. Mereka memilih menempuh jalur MK untuk berusaha membalik keadaan. Dengan berbagai dalih, dinakali secara sistematis lah, terstuktur lah, masih lah…” papar Sucecep.

”Eh, sek-sek, awakmu tahu gak apa itu MK, sistematis, terstruktur dan masif ?” tanya Sucecep pada anaknya yang Oon.

”Ya tahu lah, Pak!” ujar Chepy

Dia pun balik bertanya pada Bapaknya,

”Padahal upaya untuk membalik keadaan itu kan merugikan banyak orang dan habis-habisin duit negara ya, Pak ? Kenapa sih mereka itu tidak legowo saja dan memberi masukan seperti Lampard untuk bisa membangun bersama daerahnya ?” tanya Chepy.

”Mbuh lah, Cep…” jawab Sucecep yang tak lama kemudian semilir terdengar lagu Ebiet G. Ade “Tanyalah pada rumput yang bergoyang…”

artikel soal kekalahan yang mungkin bisa untuk jadi renungan :

http://eliemulyadi.blogspot.com/2009/04/indahnya-kekalahan.html

  • Facebook
  • Yahoo Messenger
  • Yahoo Mail
  • Multiply
  • Google Gmail
  • Share/Bookmark

One Response to “Antara Lampard Dan Pil2an”

  1. well, seharusnya memperbaiki jalan yang rusak, berlubang dan banyak memakan korban demi meningkatkan kesejahteraan rakyat itu jauh lebih prioritas daripada ngurusin daerah itu mau dipimpin siapa…

    belum jadi pemimpin saja sudah tidak bijak/legowo, mau jadi gimana daerahnya nanti… (di daerah asal saya juga begitu, anarkisme masih saja terjadi…)

    semoga kita diberi ketabahan dan kekuatan tuk tetap lurus…

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>

  • Facebook