Gunawan
Surabaya

Seorang ayah yang lagi seneng belajar brewing coffee, wordpress, SEO, internet marketing, desain grafis dan dunia periklanan. Bisa dicari di google "Jurnalis Jawa Pos"

  • Lagi berseliweran di WhatsApp Group @infoBMKG https://t.co/7p76diTox6

    Tweeted on 01:37 AM Nov 20

  • Pak @RoySparringa bisa minta pencerahannya terkait bahaya bahan baku es batu? Saya Gunawan dari Jawa Pos. Terima kasih

    Tweeted on 05:13 AM Nov 16

  • Kabel listrik putus di dekat pasar tradisional Manukan Loka V RT 1 RW 1 Manukan Kulon Tandes SBY @e100ss @pln_123 https://t.co/NhnNvLpJ9T

    Tweeted on 08:06 PM Nov 05

  • Halo @sketsanewscom ini kan hoax? https://t.co/O1Ffan31OF

    Tweeted on 04:52 PM Nov 04

  • setuju bgt! https://t.co/rI9ZVVeaHi

    Tweeted on 09:53 PM Nov 01

  • Saya setuju makin banyak akun-akun spt @ClickUnbait ini. Adanya akun spt ini akan membuat para redaktur/content wri… https://t.co/c33IBLpRUb

    Tweeted on 02:10 AM Oct 27

Share
Kopi Liputan

Handoko Hendroyono Angkat Brand Lokal dengan Jakarta Do Art

By on July 8, 2016
Libatkan Seniman, Beri Nilai Lebih Produk UKM 

Di dunia periklanan, nama Handoko Hendroyono cukup dikenal. Creative storyteller OneComm Indonesia itu punya gerakan yang diberi nama Jakarta Do Art. Sebuah aksi yang mengangkat produk lokal melalui kolaborasi bersama seniman muda.

PAMERAN produk home living menghiasi sudut Pondok Indah Mall, Jakarta, 3-9 November lalu. Menyaksikan pa­meran itu, pengunjung seolah berada di dalam galeri seni rupa. Sebab, seluruh furnitur yang dipajang berbalut desain yang artistik.

Pameran tersebut merupakan kegiatan rutin yang diadakan Jakarta Do Art. “Beberapa di antara karya seniman yang dipamerkan di sini sudah diaplikasikan ke desain brand-brand lokal,” ujar Handoko Hendroyono, penggagas komunitas Jakarta Do Art, ketika ditemui Sabtu (8/11).

Komunitas yang baru berdiri sekitar satu tahun itu dibangun dengan spirit kolaborasi mengangkat brand lokal. Bentuk kolaborasi diwujudkan dengan mempertemukan para desainer muda berbakat dan pengusaha yang masuk dalam kategori usaha kecil menengah (UKM).

“Kami ingin meningkatkan value dari produk yang dihasilkan brand-brand lokal yang masuk kategori UKM,” ujar pria yang sukses membuat sebuah tagline iklan minuman dalam kemasan botol tersebut. Melalui Jakarta Do Art, brand-brand lokal juga diharapkan mampu bersaing melawan serbuan produk asing.

Handoko banyak membagi cerita tentang Jakarta Do Art saat ditemui di kantornya di kawasan Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan

Dia mengungkapkan, semangat awal mendirikan komunitas itu tak lain ingin membantu orang lain bagaimana produk Indonesia bisa memiliki desain yang menarik.

Sebagai praktisi desain dan periklanan, Handoko melihat kelemahan produk UKM dalam negeri lebih pada sisi desain dan promosi. Di sisi lain, dia gelisah melihat banyak karya seniman muda yang luar biasa, namun kerap berhenti pada ruang pameran. Dari kegelisahan itu muncullah semangat kolaborasi tersebut.

Karya seniman dan produk UKM bisa langsung terlibat dalam Jakarta Do Art. Handoko akan melakukan kurasi terhadap karya seniman maupun produk UKM yang bakal dikolaborasikan. “Dari sisi produk, kami tak ingin kualitasnya main-main. Sebab, kalau desainnya bagus, namun kualitas produknya jelek, ya sama saja,” tutur penulis buku Brand Gardener itu.

Setelah dikurasi, karya seniman yang terpilih akan diterapkan dalam produk UKM yang membutuhkan. Nilai jual produk UKM yang dikolaborasikan dengan karya seniman otomatis meningkat. Sebab, ada komponen untuk royalti buat seniman bersangkutan.

Selain menggarap desain, Jakarta Do Art membantu pemasaran produknya. Pameran produk seperti yang dilakukan di Pondok Indah Mall itu menjadi contoh. Kegiatan pameran tersebut juga hasil kolaborasi antara Jakarta Do Art dan pengelola mal. Pengelola mal tak membebankan biaya sewa yang tinggi seperti halnya untuk acara ekshibisi umumnya. Banyak pengusaha yang telah merasakan terbantu keberadaan Jakarta Do Art. Sentuhan desain yang menarik dari para seniman kebanyakan bisa membuat para pengusaha meningkatkan nilai jual produknya.

Sejak berdiri setahun lalu, Jakarta Do Art setidaknya telah melibatkan lebih dari 20 seniman. Dari sisi pengusaha, ada sekitar sepuluh UKM yang telah bekerja sama dengan komunitas tersebut. Salah satu yang berhasil membuat produk hasil kolaborasi dengan Jakarta Do Art adalah Binar Lamp and Shade. Perusahaan itu bergerak di bidang produksi lampu hias customized.

Ada beberapa desain lampu Binar yang diangkat dari karya seniman lokal. Di antara sekian lampu di toko online Binar, desain bermotif batik terlihat sangat eye-catching. Desain itu ternyata dibuat seniman dari Sidji Batik, UKM dari Jogjakarta yang memproduksi batik dan telah merambah pasar ekspor. “Sebagai brand lokal, kami merasa bisa saling bersinergi melalui Jakarta Do Art,” ujar pemilik Binar Lamp Medina Mochdie.

Di luar Binar Lamp, ada produk-produk UKM lain yang telah diajak berkolaborasi dengan Jakarta Do Art. Mulai popok bayi, sepatu tenun, sampai furnitur kuno. Handoko menunjukkan gambar sepatu tenun. Desainnya cukup menarik, sebuah sepatu produk UKM di Jakarta yang dikreasikan dengan karya tenun perajin di Bali. “Saya yakin spirit kolaborasi bisa menjadi platform bersama untuk memajukan dunia kreatif Indonesia,” tegasnya.

Lulusan Ilmu Kesejahteraan Sosial Fisip Universitas Indonesia itu meyakini, jika gerakan kolaborasi tersebut bisa digalakkan, UKM Indonesia bisa siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015. “Dengan berat hati saya harus bilang,” ujar dia, “produk lokal kita banyak yang belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.” Yakni tidak siap dari sisi organisasi, komunitas, maupun pemerintah. “Lebih menyedihkan lagi,” lanjut Handoko, “pemerintah kurang bisa mengeksplorasi cool factor dari produk lokal yang ada.”

Seiring berjalannya waktu, bukan produk barang saja yang diupayakan dikolaborasikan Jakarta Do Art. Handoko dan kawan-kawan kini berupaya mengangkat sejumlah brand film Indonesia. Pria kelahiran Ponorogo, 26 Mei 1963, itu sedang memproduseri film Filosofi Kopi yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Dewi “Dee” Lestari.

Lewat film itu Handoko ingin Filosofi Kopi menjadi sebuah brand untuk mengangkat perkopian Indonesia. Produk-produk turunan yang berkaitan dengan kopi Indonesia akan dibuat secara kolaborasi dengan sejumlah pihak. “Melalui brand Filosofi Kopi saya ingin mengenalkan kopi Indonesia ke dunia luar lewat film. Bahkan, ke depan tidak hanya lewat film, tapi juga games, aplikasi mobile, merchandise, hingga kedai kopi,” papar Handoko. Hal itulah yang dilakukan film-film di Hollywood macam Transformers.

Sebelumnya Handoko juga terlibat dalam gerakan Bung Hatta Movement atau Bung Ayo Bung. Gerakan tersebut merupakan kolaborasi sejumlah komunitas dengan tujuan melahirkan produk-produk yang berkaitan dengan semangat berkoperasi yang dicetuskan Bung Hatta. Gerakan itu juga menghasilkan sebuah film berjudul Hatta yang rencananya dirilis Januari 2015. (*/c9/ari)

Tulisan ini pernah diterbitkan di Jawa Pos edisi 11 November 2014.

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT

Isikan hasil dari pertambahan di kolom kosong di bawah ini *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com