Gunawan
Surabaya

Seorang ayah yang lagi seneng belajar brewing coffee, wordpress, SEO, internet marketing, desain grafis dan dunia periklanan. Bisa dicari di google "Jurnalis Jawa Pos"

Share
Catatan

Ketika Perkembangan TIK Berdampak Pada Kondisi Masyarakat dan Industri Media Massa

By on December 17, 2008

Kabar Haji Pun Tak Perlu Tunggu Dunia Dalam Berita

Siang itu seperti biasanya, saat break kuliah di warung kampus Stikomp selalu dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa cangkruk (Nongkrong – Jawa). Beberapa diantaranya bergerombol dekat meja tempat saya menikmati makan siang. Obrolan ringan khas mahasiswa pun terdengar ditelinga saya. Tak berselang lama, tiba-tiba obrolan para mahasiswa itu terganggu oleh dering suara panggilan masuk dari sebuah ponsel. Obrolan tersebut terganggu mungkin karena nada dering yang terdengar keras dan lucu, yaitu lantunan lagu Project Pop,…”Goyang Duyu…”.

Karena si penerima telpon dekat dengan saya, lirih-lirih obrolannya pun terdengar. Ternyata si mahasiswa yang rambutnya bergaya Harajuku tersebut sedang mendapat telepon dari seseorang yang sedang menunaikan ibadah Haji, sepertinya dari orang tuanya. Karena yang saya ingat terdengar ucapan, “Di Arab udaranya gimana ? Abah bagaimana Mik ?”

Mendengarkan secara tak sengaja pembincangan si mahasiswa tersebut saya jadi teringat saat orang tua saya menunaikan ibadah Haji, tahun 1994 silam. Iri rasanya melihat perkembangan teknologi telekomunikasi yang semakin hari semakin canggih dan terjangkau. Jangankan pembicaraan suara (voice), komunikasi antara si anak dan orang tua yang sedang berhaji tersebut kini juga memungkin dilakukan melalui video call. Jadi si anak dan orang tuanya yang berada nun jauh disana bisa saling melihat wajah. Padahal jaman orang tua saya dulu naik haji, alih-alih melihat wajah orang tua saya dari negeri Arab, dengar suaranya melalui percakapan saja rasanya sudah syukurnya bukan main. Dan interaksi pertelpon itu pun hanya berlangsung sekali selama mereka di sana.

Lain dengan sekarang, dimana tarif telekomunikasi semakin terjangkau. Dahulu bila orang tua saya sering-sering telephon, ya… bisa dipastikan telephon rumah yang membengkak atau orang tua saya yang akan kehabisan real-nya (mata uang Arab Saudi). Bahkan dulu untuk memastikan kondisi keluarga yang sedang berhaji baik-baik saja, banyak orang yang menunggu siaran Dunia Dalam Berita (Program berita TVRI yang dulu tayang setiap hari pukul 21.00 Wib). Sebab dalam siaran berita tersebut selalu ada liputan haji lengkap berdasarkan data jamaah haji yang meninggal dunia. Waktu mantengin acara tersebut saya masih teringat, hati ini rasanya selalu “H2C” (Harap-Harap Cemas).

Jika teringat kejadian tersebut dan memandingkannya dengan apa yang dialami mahasiswa tadi, oh…betapa bahagianya sekarang, hidup di jaman teknologi telekomunikasi yang semakin canggih dan terjangkau. Tak perlu lagi menunggu didepan televisi setiap jam sembilan malam, kini siapa pun bisa mengetahui kabar dari luar negeri secara langsung (kapanpun dan dimanappun), termasuk berita-berita seputar Haji. Berkat adanya Palapa Ring yang memungkinkan pengiriman sebuah file yang cukup besar, sekarang kita dengan mudahnya bisa secara live mendapatkan berita-berita hangat dan aktual dari luar negeri, baik di Televisi sampai Portal Berita.

Saat Ayah saya berhaji di tahun 1994, beliau sambil bertugas sebagai wartawan sebuah surat kabar dari Surabaya. Yang dibawanya untuk menyambangi Ka’bah tak lumrahnya jamaah haji lainnya. Dalam kopernya berisi mesin ketik, kertas-kertas, merekam suara (lengkap dengan kaset-kaset kosongnya), sampai roll tinta mesin ketik. Jika dibandikan sekarang kondisi tersebut sungguh menggelikan.

Para wartawan yang bertugas sekarang kebanyakan cuma berbekal laptop, yang mana bentuknya semakin hari semakin handy. Bahkan cerita seorang jurnalis dari sebuah portal berita terkemuka, ia sehari-hari bertugas hanya dibekali sebuah ponsel keluaran Nokia yang berkemampuan merekam suara, video, kamera, dan didukung teknologi 3G. Dengan gadget tersebut si wartawan bisa langsung mengirimkan naskah tulisan, foto hingga video untuk portal beritanya. Dalam hitungan menit…setss…sets..berita langsung tampil di situs dan bisa dinikmati masyarakat.

Ya…dunia sudah berubah. Karena perkembagan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), seorang wartawan pun harus bermetamorfosa, dari dulu yang disebut kuli tinta, kini menjadi kuli gadget. Persis dengan apa yang dialami wartawan portal berita diatas.

Dan diakui atau tidak, perkembangan TIK termasuk perkembangan telekomunikasi seluler telah berpengaruh terhadap industri media massa. Jika dahulu di jaman orde baru (saat teknologi belum secanggi sekarang) para pengusaha media berjuang mencari SIUP (Surat Ijin Usaha Penerbitan) yang tidak lain untuk mengais rupiah dari industri media cetak (mendirikan koran, majalah, tabloid, dan sebagainya).

Namun kini karena perkembangan TIK yang tak lagi bisa dibendung, arah investasi mendirikan media lebih condong ke arah pendirian media-media online (seperti salah satunya portal berita). Apa yang dipikirkan para pengusaha media online tentu cukup beralasan. Selain karena perkembangan TIK, bisnis di media massa cetak juga dihadapkan pada masalah klasik, yaitu mahalnya bahan baku (kertas) dan produksi (proses cetak).

Karena pasar sudah seperti itu, maka yang terjadi wartawan sebagai pelaku media pun mau tidak mau harus menguasai teknologi, jadilah kemudian julukan kuli gadget. Merekam wawancara, memotret, dan mengirimkan suatu berita hanya melalui genggaman handset. Bahkan, kini aktifitas semacam wawancara pun kerap dilakukan secara online melalui aplikasi-aplikasi chating atau via situs social networking.

Selain itu pengaruh signifikan yang dihasilkan oleh perkembangan TIK terhadap media juga bisa dilihat dari transformasi iklan media. Dalam sebuah artikel, perolehan kue iklan oleh media baru (Internet dan Mobile) di Inggris dan Swedia tahun 2008 telah menyamai iklan media cetak. Bahkan diprediksi sekitar tahun 2012, perolehan iklan online di Amerika Serikat akan menggalahkan iklan cetak, yaitu sebesar $62 milyar untuk online dan $60 milyar untuk cetak.

Menjamurnya media online juga kemudian memicu timbulnya fenomena citizen journalism dikalangan masyarakat. Melalui gadget-gadgetnya masyarakat bisa menjadi penyuplai berita bagi media. Inilah yang secara tidak terasa akan berakibat semakin kreatif, cerdas dan kritisnya masyarakat di Indonesia.

Lantas, sebagai masyarakat apa yang harus dilakukan ? Terpenting, ya mungkin nikmatilah dampak perkembangan TIK ini dengan hal yang positif. Beradaptasi, memahami dan ikutilah era digitalisasi dengan baik. Sebab perkembangan suatu peradaban selalu membawa konsekuensi tersendiri. Dan teknologi bagaikan sebuah mata pisau, bisa bermanfaat dan menguntungkan jika digunakan dengan baik, atau akan menyesatkan bahkan “membunuh” jika keliru mengadopsinya.

Contoh kecilnya, bayangkan karena tarif telekomunikasi yang murah, membuat si mahasiswa yang ada dicerita awal tadi seenaknya menggunakan telepon ke luar negeri, tanpa manfaat dan hanya membuang-buang pulsa. Misal saja iseng telepon luar negeri cuma untuk say hello, “Halaa…Agus…Agus…”

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT

Isikan hasil dari pertambahan di kolom kosong di bawah ini *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com