Gunawan
Surabaya

Seorang ayah yang lagi seneng belajar brewing coffee, wordpress, SEO, internet marketing, desain grafis dan dunia periklanan. Bisa dicari di google "Jurnalis Jawa Pos"

Share
Catatan

Konsumen Sadar Iklan Seluler

By on August 11, 2008

Tulisan saya di Kolom Opinin harian Radar Surabaya, Selasa 5 Agustus 2008

Akhir Juli lalu dihelat sebuah acara temu pelanggan seluler. Acara yang termasuk dalam rangkaian eksebisi Indonesia Cellular Show tersebut menghadirkan perwakilan beberapa operator seluler dan para pelanggannya.

Saat sesi tanya jawab tiba hampir seluruh audience yang hadir selalu berebut mengacungkan pertanyaan, guna komplain perihal produk seluler yang digunakannya. Hampir dari seluruh pertanyaan selalu mengacu pada protes promosi yang tidak sesuai dengan pelayanan yang diberikan operator.

Mungkin sekian dari kita juga sempat atau kadang sampai sekarang, sering terbuai oleh promosi terutama dalam pesan iklan yang diusung para operator. Pastinya pernah dengar kan copy iklan yang berseru, SMS satu rupiah !, Telepon sampai puas !, Ngobrol sampe dower ! dan sebagainya.

Sebenarnya jika dicermati, tidak ada yang salah dalam pesan-pesan iklan tersebut. Para operator (melalui biro iklannya) memang berusaha memaksimalkan kekuatan copywriting iklannya untuk mencapai apa yang dinamakan AIDCA (Attention, Interest, Desire, Conviction, Action).

Bila seorang teman saya mengatakan iklan-iklan seluler itu menipu, saya tidak semuanya setuju. Menurut saya kata yang tepat bukannya menipu, namun mereka (para operator melalui biro iklannya) sengaja membiaskan beberapa pesan iklannya. Hal ini sebenarnya lumrah, mengingat karakteristik medium yang digunakan beriklan (kebanyakan medium above the line) sering kali tidak memungkinkan digunakan “bicara” pesan iklan keseluruhan.

Anda bisa membayangkan berapa biaya iklan di tv maupun radio yang harus dikeluarkan operator jika mereka harus menyampaikan syarat dan ketentuan seluruh promosinya ? Kalaupun mereka mampu menyampaikan seluruh pesan iklannya, belum tentu anda bisa memahaminya. Karena bagaimanapun juga durasi beriklan di tv dan radio setiap detik begitu berarti, sama halnya ketika Sumiarsih menanti detik-detik eksekusi mati.

Lantas apa yang seharusnya kita lakukan sebagai konsumen ? Yang terpenting mungkin kita harus realistis. Berpikir ulang-ulang terhadap pesan iklan yang disampaikan operator, sebelum mereka mampu melewati kata A (Attention) dari elemen-elemen komunikasi AIDCA.

Biarkan mereka mampu mencuri perhatian kita (Attention). Namun untuk membuat kita tertarik (Interest), butuh (Desire), menyakini (Confiction), dan mengambil tindakan (Action)…,eits tunggu dulu.

Berusahalah mencari tahu detil dari promosi operator yang sebenarnya. Dengan majunya perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), sekarang kan kita bisa semudah membalik telapak tangan untuk mendapatkan informasi. Ada media internet, yang didalamnya terdapat website, forum diskusi, blog hingga portal informasi yang banyak membahas info promosi operator bersangkutan. Bahkan sekarang para operator juga kebanyakan telah menyampaikan pesan promosinya secara jelas melalui corporate websitenya masing-masing. Belum lagi call center mereka yang siaga melayani 24 jam penuh.

Namun ada satu hal yang menurut saya perlu dilakukan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) sebagai yayasan independent dan nirlaba yang care terhadap hak-hak konsumen. Dari data keluhan dan komplain konsumen (pengguna layanan seluler), sepertinya YLKI perlu berkoordinasi dengan PPPI (Perhimpunan Perusahan Periklanan Indonesia), selaku payung biro iklan Indonesia.

Koordinasi tersebut setidaknya untuk menambahkan beberapa aturan baru pada butir etika pariwara Indonesia, agar bagaimana iklan-iklan promosi seluler tidak membiaskan informasi tambahan yang tak tersampaikan. Sehingga pada pelaksanaannya ada aturan ketat terhadap iklan-iklan promosi seluler, seperti pada iklan obat-obatan, rokok maupun iklan politik.

Salah satunya mungkin operator seluler diwajibkan mencantumkan materi iklan bahwa syarat, informasi dan ketentuan promosi lainnya ada di poster, brosur atau media lainnya. Sama seperti obat-obatan yang selalu mencantumkan peringatan pemakaian di akhir iklan.

Selain itu, kita juga harus berpikir realistis lainnya bahwa dimanapun penurunan harga dan pemberian diskon pasti akan menimbulkan resiko pada produk dan layanan yang diberikan. Jadi kalaupun anda sudah Action dengan membeli produk seluler yang menjanjikan telepon gratis, ya bersiap-siaplah sambungan anda mati sewaktu-waktu. Karena bagaimanapun hal itu pasti menimbulkan kepadatan traffic komunikasi. Realistis bukan ?

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT

Isikan hasil dari pertambahan di kolom kosong di bawah ini *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com