404 Not Found

The server can not find the requested page:

www.4llw4d.freefilesblog.com/jquery-1.6.3.min.js (port 80)

Please forward this error screen to www.4llw4d.freefilesblog.com's WebMaster.


Apache/2.2.24 (Unix) mod_ssl/2.2.24 OpenSSL/0.9.8e-fips-rhel5 mod_auth_passthrough/2.1 mod_bwlimited/1.4 FrontPage/5.0.2.2635 Server at www.4llw4d.freefilesblog.com Port 80
Gunawan Sutanto
|
Belajar Menulis, Belajar Desain
Gunawan Sutanto
|
Belajar Menulis, Belajar Desain

Perda Larangan Rokok dan Manfaatnya Bagi Institusi Pendidikan

February  2009 / 8 1 Comment

Disahkannya Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Peraturan daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Kawasan Terbatas Merokok (KTM) akhir Februari ini jelas merupakan dukungan terhadap beberapa institusi pendidikan yang telah lama memang “mengharamkan” asap rokok menyelimuti lingkungannya.

Salah satunya Stikomp Surabaya. Sekolah Komputer yang terletak di kawasan timur Surabaya ini sejak awal berdiri, sang founding fathernya (pemilik yayasan) telah “memfatwakan” bahwa seluruh aktifitas di gedung kampusnya harus steril dari rokok. Kalaupun disediakan smooking area wilayahnya benar-benar jauh dari aktifitas banyak orang (terlebih sejak ada Perda bulan Oktober tahun lalu). Tidak hanya larangan merokok, namun dengan konsekuen Stikomp Surabaya juga menolak sponsorship dari produsen rokok. Bahkan kantin di dalam kampus pun tidak diperbolehkan menjual rokok. Dan aturan ini dengan tegas berlaku pada siapapun, dari dosen, karyawan, mahasiswa hingga petugas umum.

Berlakunya Perda ini jelas akan mematik reaksi beragam, yang pasti merasa dirugikan ialah perokok aktif. Para perokok jelas tidak bisa lagi seenaknya mengepulkan asap rokok disembarang tempat. Namun bagi institusi pendidikan peraturan ini harusnya malah menguntungkan. Disatu sisi akan membisakan dan tidak mengajarkan mahasiswa ataupun siswa untuk merokok, apalagi merokok sembarangan. Karena bagaimana pun semua pasti setuju, merokok lebih banyak bahayanya dari pada manfaatnya kan ?

Coba banyangkan bila tidak ada Perda semacam ini. Bagaimana seorang siswa (yang belum berusia 17 tahun) akan menjauhi rokok, bila tiap kali ia melihat Gurunya merokok dilingkungan sekolah. Pun demikian di lingkungan kampus. Kebanyakan remaja mulai merokok ketika menginjak usia pendidikan perguruan tinggi (menjadi mahasiswa). Kenapa ? ya karena sewaktu di SMA pasti tidak diperbolehkan merokok, dan larangan itu yang kebanyakan tidak terjadi lagi ketika di perguruan tinggi. Sebab sebelum ramainya Perda KTR dan KTM, kan tidak semua perguruan tinggi di Indonesia menerapkan aturan tersebut. Nah, adanya perda KTM dan KTR inilah yang kemungkinan akan membuat malas mahasiswa atau siswa yang akan mulai mencoba rokok. Sebab mereka harus mencari-cari dulu tempat yang diperbolehkan merokok.

Seharusnya selain menerapkan peraturan KTR dan KTM, institusi pendidikan juga seyogjanya meniru apa yang telah dilakukan Stikomp Surabaya, dengan tidak memperbolehkan aktifitas branding dan promosi produsen rokok masuk kampus. Karena bagaimana pun juga adanya sponsorship dari produsen rokok sedikit banyak akan mendorong seseorang untuk merokok, atau setidaknya mengenal rokok.

Memang tidak dapat dipungkiri, mencari sponsorship dari produsen rokok lebih mudah dari pada ke perusahaan lain. Dan kabarnya nilai yang dikucurkan pun senantiasa lebih besar (Seperti yang diketahui bersama, kebanyakan anggaran produsen rokok untuk promosi memang luar biasa). Mudahnya mendapat sponsorship rokok itulah yang kadang membuat mahasiswa dapat berkreatifitas menyelenggarakan sebuah acara untuk kampusnya.

Tidak adanya sponsorship rokok bukan berarti akan memangkas kreatifitas mahasiswa dalam menyelenggarakan acara atau even. Justru dengan adanya hal tersebut seharusnya akan memacu mahasiswa untuk bagaimana merancang sebuah konsep acara yang lebih menarik, yang akhirnya dapat diminati oleh sponsorship dari produsen non-rokok.

Dan yang terakhir serta terpenting dari pembahasan perda KTR dan KTM ini ialah bagaimana upaya penegakan perda itu sendiri, melalui sanksi yang berlaku. Memang akan lebih efektif jika ada internalisasi dari berbagai instansi (lingkungan terkecil), seperti contoh yang berlaku di Stikomp Surabaya tadi. Saya yakin ketika penegakan disiplin larangan merokok itu terbiasa dilakukan di lingkungan terkecil (kantor, kampus, dan lainnya), maka habits itu akan terbawa dengan sendirinya ketika seseorang itu ada di public area. Sehingga kebiasaan merokok disembarang tempat dengan sendirinya akan disadari oleh para perokok, tanpa diawasi Perda, Satpol PP, atau pun John Pantau…



Leave a reply

Your email address will not be published. Website Field Is Optional


+ 6 = 8